Beberapa bulan terakhir ini, Microsoft ingin menunjukkan bahwa mereka mencintai Linux (baca: GNU/Linux dan Android/Linux) dengan slogan “Microsoft love Linux”nya. Tak hanya slogan saja, Microsoft juga merilis beberapa proyek proprietari dan closed source mereka menjadi proyek perangkat lunak bebas dan open source atau hanya merilisnya untuk GNU/Linux tanpa mengubahnya menjadi open source, termasuk .NET, Javacript engine browser Edge (ChakraCore), serta yang baru heboh pekan ini–SQL Server, dan distro berbasis Debian buatan sendiri.

Hingga saat ini, Microsoft terkesan sangat baik dan menerima Linux. Tapi apakah benar seperti itu?

Belum lama ini, Microsoft mendaftarkan paten Continuum nya, hingga saat ini paten ini masih diproses. Bila Anda mengikuti perkembangan Ubuntu convergence, maka Continuum milik Microsoft ini hampir sama dengannya.

“paten Microsoft sepertinya fokus ke perangkat keras yang menyediakan pengalaman ‘konvergensi’ (convergence) daripada abstraksi teknologi perangkat lunak yang ada di situ..” tulis Joey-Elijah Sneddon di OMG! Ubuntu!.

Padahal, Ubuntu sudah mempunyai ide desktop convergence jauh hari sebelum adanya Continuum, walaupun Ubuntu tidak segera mengeksekusinya.

Selain Ubuntu dengan Ubuntu Phone nya, pemakaian ‘dock’ juga dipakai oleh Motorola dengan ponsel pintar Atrix, ASUS PadFone, Continuity milik Apple, dan sebagainya.

Dari sebuah thread di Reddit, kampanye “Microsoft adalah entitas pertama yang menerapkan ‘convergence‘” dilakukan oleh banyak media. Gutigen, salah satu redditor berkomentar, “Masalahnya adalah media-media mainstream yang berpikir ini adalah ide MS, bahkan menyebut Ubuntu convergenceterinspirasi dari Continuum.”

Dengan adanya kampanye seperti itu, ada potensi, Microsoft bisa memanfaatkan paten ini untuk “menjegal” lawannya, termasuk Ubuntu.

Di lain hari setelah kehebohan berita akan hadirnya SQL Server untuk GNU/Linux, Microsoft memperpanjang kontrak Wistron, yang mengijinkan pabrik perangkat keras asal Taiwan ini menggunakan paten dan teknologi Microsoft di tablet, ponsel pintar, e-reader, serta perangkat lain yang menggunakan Android atau ChromeOS.

Di bulan Februari, Acer merupakan OEM Android terakhir yang ikut menandatangi kontrak penggunaan paten Microsoft. Sebelumnya sudah ada Samsung, Sony, Dell, dan Asus.

Hasil yang sangat menakjubkan dari paten Microsoft ini telah diperkirakan oleh Bogdan Popa, penulis di Softpedia. Microsoft bisa mendapatkan $8 per perangkat Android atau $3 triliun per tahun hanya dengan paten. Makin banyak perusaahaan yang menggunakan paten Microsoft, perusahaan asal Redmond ini akan semakin banyak mendapatkan uang tanpa harus repot-repot menggerakan jempol kaki.

Jadi, benarkah Microsoft mencintai Linux? Apakah justru ingin menjegal dengan bermain paten? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Source : http://kabarlinux.web.id